Dia tetap tertidur pulas.
Tak perduli bahaya mengancam nya.
Walaupun isi hati sebenarnya.
Dihantui oleh kerasnya ibukota.
Kota metropolitan kita.
Yang tak tahu menahu. apa sebenarnya tujuanya.
Mereka sangat berniat untuk sekolah.
Namun tak punya biaya.
Diperbudak oleh kota kelahiran mereka sendiri.
Berbekal suara yang tidak lebih.
Ditambah sebuah gitar kecil.
Mencari uang untuk sekeluarga.
Anak jalanan......
Hanya mengamen yang mereka tau.
Dari bis ke bis yang lain.
Dari rumah ke rumah yang lain.
Sampai dari persimpangan ke persimpangan yang lain.
Tak peduli waktu terus berlalu.
Tanpa beristirahat yang berarti.
Apakah pemerintah sudah melihat keberadaan mereka?
Di lampu merah?
Di kolong jembatan?
Dan banyak di pinggir jalan?
Mau kalian apakan mereka?
Diusir tidak. diurus pun tidak.
Apakah kalian para pemerintah..
Mau berpuasa dari korupsi?
Mau melihat mereka?
Mau terjun langsung ke mereka?
Pemerintah....
Kalian kemana kan semua uang untuk mengurusi mereka?
Kesejahteraan mereka?
Semua tentang mereka?
Tidak hanya memberi larangan mengamen
Tapi juga sebuah tindakan yang berarti.
Apakah mereka di mata kalian.
Hanya seperti debu?
Hanya seperti semut?
Cobalah kalian pikirkan.
Wahai pemerintah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar